Pelatihan Menjadi Imam Sholat

masjidSeorang muslim yang baik akan berusaha untuk menyempurnakan setiap amalanya, karena hal itu menjadi bukti keteguhan imannya. Satu yang sangat diwajibkan bagi setiap muslim ialah harus menjaga shalatnya dan bahkan harus menjadi perhatian utamanya. Dalam prakteknya, mengerjakan sholat itu ada yang sendiri dan berjamaah. Dapat dibayangkan, bagaimana ketika imam bertakbir (ketika hendak takbiratul ihram) terlihat para makmun juga bertakbir sambil mengangkat tangannya secara serempak, ketika imam selesai membaca ayat terakhir pada surah Al fatihah terdengar keserasian ma’mum membacakan “amiin” dalam mengikutinya. Tidak salah, jika ada yang mengatakan, bahwa persatuan dan kesatuan umat terlihat dari lurus dan rapat suatu shaf, sebagaimana hadits yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya “Hendaklah kalian luruskan shaf kalian, atau Allah akan memecah belah persatuan kalian

Pesantren Modern Al Barokah sebagai salah satu Institusi yang berlandaskan syiar Islam mengajarkan kepada para santrinya untuk saling bersatu, jangan sekali-kali terpecah belah. Firqoh-firqoh yang terbentuk bukanlah untuk memecah belah, melainkan untuk menghidupkan persaingan secara sehat antar santri. Untuk menegakkan syiar Islam Pesantren melalui bagian pendidikan dan bagian ta’mir masjid Al Barokah membuat sebuah pelatihan yang diperuntukkan menjadi kader-kader pesantren khususnya menjadi kader Imam pada sholat. Fungsinya untuk mendewasakan santri dan menunjukkan betapa mulianya seorang yang mampu menjadi imam. Pelatihan yang dilaksanakan tiga kali dalam seminggu ini setelah sholat isya’ bertempat di masjid Al Barokah mengajarkan dan melatih bagaimana menjadi imam yang baik, fasih dalam bacaannya, mahir dalam hafalan ayatnya.

Seperti yang Tim Al Barokah liput baru-baru ini dalam penerangannya ust Firdaus Fauzi menyampaikan “jika ada yang lebih fasih dalam hafalan dan bacaan ayat-ayat Al Quran dan lebih ‘alim, sebaiknya dia ikhlas menjadi imam. Yakinlah setiap ayat yang dibacakan akan menjadi asksi kelak di akhirat, ma’mum yang mendengar juga menjadi saksi nantinya”. Apa-apa yang disampaikan oleh beliau semua itu merujuk dari hadits yang diriwayatkan Abi Mas`ud Al Badri Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَؤُمُّ اْلقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ ، فَإِنْ كَانُوْا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءٌ فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ ، فَإِنْ كَانُوْا فِى السُّنَّةِ سَوَاءٌ فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً ، فَإِنْ كَانُوْا فِى اْلهِجْرَةِ سَوِاءٌ فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا (وَفِى رِوَايَةٍ : سِنًّا)، وَ لاََ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِه (وفى رواية : فِي بَيْتِهِ) وَ لاَ يَقْعُدْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Yang (berhak) menjadi imam (suatu) kaum, ialah yang paling pandai membaca Kitabullah. Jika mereka dalam bacaan sama, maka yang lebih mengetahui tentang sunnah. Jika mereka dalam sunnah sama, maka yang lebih dahulu hijrah. Jika mereka dalam hijrah sama, maka yang lebih dahulu masuk Islam (dalam riwayat lain: umur). Dan janganlah seseorang menjadi imam terhadap yang lain di tempat kekuasaannya (dalam riwayat lain: di rumahnya). Dan janganlah duduk di tempat duduknya, kecuali seizinnya”

masjidBeberapa materi yang disampaikan pada pelatihan itu ialah bahwa seseorang yang menjadi imam harus mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat, dari bacaan-bacaan shalat yang shahih, hukum-hukum sujud sahwi dan seterusnya. Karena seringkali kita mendapatkan seorang imam memiliki bacaan yang salah, sehingga merubah makna ayatnya. Kemudian Mentakhfif Shalat. “Jika salah seorang kalian shalat bersama manusia, maka hendaklah (dia) mentakhfif, karena pada mereka ada yang sakit, lemah dan orang tua. (Akan tetapi), jika dia shalat sendiri, maka berlamalah sekehandaknya”.

Akan tetapi perlu diingat, bahwa takhfif merupakan suatu perkara yang relatif. Tidak ada batasannya menurut syari’at atau adat. Bisa saja menurut sebagian orang pelaksanaan shalatnya terasa panjang, sedangkan menurut yang lain terasa pendek, begitu juga sebaliknya. Kewajiban Imam Untuk Meluruskan Dan Merapatkan Shaf. Ketika shaf dilihatnya telah lurus dan rapat, barulah seorang imam bertakbir, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakannya.

Salah satu kesalahan yang sering terjadi, seorang imam menghadap kiblat dan dia mengucapkan dengan suara lantang,”Rapat dan luruskan shaf,” kemudian dia langsung bertakbir. Kita tidak tahu, apakah imam tersebut tidak tahu arti rapat dan lurus. Atau rapat dan lurus yang dia maksud berbeda dengan rapat dan lurus yang dipahami oleh semua orang…. (bersambung)

 

Share
Updated: 28 Januari 2016 — 09:26

1 Comment

Add a Comment
  1. Assalamualaikum,pak ustadz…
    saya madi dari Tangerang,,maaf sebelumnya saya sebenarnya pingin belajar jadi imam,,
    Karna saya beberaap kali jadi imam di mushala dan azan tapi saya merasa gemetar dan juga kwatir dengan bacaan saya jika salah,, saya takut berdosa dan menanggung dosa jemaah yang lain..
    Saya berniat belajar jadi imam pak ustadz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Yayasan Wakaf Al Barokah Simalungun © 2015