Hikmah Tadarus Al Qur’an

tadarusGema ayat suci Al Qur’an  selalu terdengar setiap selesai sholat fardhu, lantunannya sambung-menyambung bak angin berhembus, menembus kebisingan yang ada di sekitar wilayah desa silinduk. Jika sebelumnya lantunan ayat dapat didengar hanya pada waktu selesai sholat magrib dan shubuh, kali ini selama bulan ramadhan tidak hentinya santri-santri bergantian membacakan ayat Al Qur’an  dengan lantunan yang indah. Tadarus Al Qur’an   pada bulan ramadhan menjadi sebuah keharusan, sehingga akan menciptakan generasi-generasi yang qur’ani.

Namun, adakah yang tahu apa makna sebenarnya tadarus itu? Dan apa tujuannya melaksanakan tadarus? berikut ustad M.Syafi’i Saragih dan ustad M. Syarif Ritonga menjawab:

Tadarus berasal dari asal kata darosa-yadrusu, yang artinya mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji, dan mengambil pelajaran. Lalu ketambahan huruf ta’ di depannya sehingga menjadi tadaarosayatadaarosu , maka maknanya bertambah menjadi saling belajar atau mempelajari secara lebih mendalam. Satu orang membaca dan yang lain menyimak.

Namun sering kita jumpai kegiatan ‘tadarusan’, sepertinya nyaris tanpa pengkajian makna tiap ayat, yang ada hanya sekadar membaca saja. Terkadang benar dan tidaknya bacaan tidak terperhatikan karena tidak ada ustadz yang ahli di bidang membaca Al-Quran yang bertugas mentashih bacaan.

Bentuk yang seperti itu lebih tepatnya disebut tilawah wal istima‘. Kata tilawah berarti membaca, dan kata istima’ yang berarti mendengar.

  1. Tadarus itu tujuannya untuk mempelajari dan memahami tentang isi dan kandungan ayat-ayat Al Qur’an, tidak ada manusia yang lebih baik dari pada orang yang mau belajar dan mengajarkan Al Qur’an. Caranya bagaimana?? Carilah orang yang bisa mengajarinya, contoh di pesantren ada ustad-ustad. Jadi tadarus Al Qur’an itu lebih menekankan proses belajarnya dari pada hanya sekedar membaca dan mengkhatamkan. Alangkah baiknya selain mengkhatamkan bacaannya, mengkhatamkan juga pemahamannya tentang Al Qur’an.
  2. Berharap memperoleh kebaikan berlipat. Sabda Nabi Muhammad SAW., “Barangsiapa yang membaca satu huruf darikitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)
  3. Mengangkat derajat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan Al kitab (Al-Quran), dan Ia akan merendahkan derajat suatu kaum yang lain dengannya.” (HR. Muslim).
  4. Dikumpulkan di surga bersama para malaikat. Sabda Nabi Muhammad, “Orang yang mahir membaca Al Qur’an kelak (mendapat tempat di surga) bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Sementara orang yang kesulitan dan berat jika membaca Al-Quran, maka ia mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  5. Al Qur’an adalah pembeda. Sabda Nabi Muhammad SAW, “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Quran seperti buah limau yang harum baunya dan lezat rasanya. Perumpamaan orang mukmin yang tidak suka membaca Al-Quran seperti buah kurma yang tidak berbau, tetapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Quran seperti buah yang harum baunya, tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah handhalah yang tidak ada baunya dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
  6. Ingat, Al Qur’an adalah pandangan hidup yang sejatinya setiap hari dibaca, dihayati, direnungkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika membaca Al Qur’an hendaknya mengikuti kaidah-kaidah tajwid, tidak hanya sebatas kemampuan membaca. Sebab, akan menjadi sebuah dilema jika kualitas bacaAl Qur’an saja masih sangat rendah, bagaimana dengan kualitas bacaan shalat kita?.
FacebookTwitterShare
Updated: 17 Juni 2017 — 9:37 am

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Yayasan Wakaf Al Barokah Simalungun © 2015