Hari Santri Nasional

“Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2017. Jangan lupakan sejarah, karena begitu banyak pelajaran-pelajaran yang bisa diambil. Mari.. munculkan kembali semangat juang para pendahulu kita” Ustad Amril – Staf Bidang UbudiyahPesantren Modern Al Barokah

Sejarah tidak akan memungkiri besarnya kontribusi serta peran Pesantren sebagai institusi tertua di Negara kita Indonesia, dalam berbagai kiprahnya dalam pembangunan manusia, pencetak generasi yang berakhlakul karimah, pencetak pemimpin-pemimpin serta perjuangannya demi bangsa dan negara ini.

Besarnya pengaruh pendidikan di pesantren tidak hanya terbatas pada santri-santri yang bermukim di asrama, tapi juga menjangkau masyarakat luas bahkan sampai pada tingkat pemerintahan. Kiai Abdurrahman Wahid atau atau yang akrab disapa Gus Dur salah satunya, ia adalah tokoh Muslim Indonesia dan menjadi Presiden Indonesia yang keempat (https://profil.merdeka.com/indonesia/a/abdurrahman-wahid/). Beliau memiliki Latar belakang dari Pendidikan Muslim di sebuah Pesantren yang bernama Pesantren Tegalrejo di Kota Magelang dan Pesantren Tambakberas di Kota Jombang.

hari santri nasionalHasan Besari, dari pesantren Tegalsari Ponorogo, beliau berperan besar dalam meleraikan pemberontakan di Keraton Kartasura. Bukan hanya itu, pesantren dulu juga mampu melahirkan pujangga. Raden Ngabehi Ronggowarsito adalah santri Kiai Hasan Besari yang berhasil menjadi Pujangga Jawa terkenal.

hari santri nasionalSecara historis, keberadaan pesantren hampir bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia. Alasannya sangat sederhana. Islam, sebagai agama dakwah, disebarkan secara efektif melalui proses transformasi ilmu dari ulama ke masyarakat (tarbiyah wa ta’lim, atau ta’dib). Proses ini di Indonesia berlangsung melalui pesantren.

Secara bahasa, pesantren tidak sepenuhnya merujuk pada kata dalam bahasa Arab. Sebutan untuk pelajar yang mencari ilmu bukan murid seperti dalam tradisi sufi, thalib atau tilmidh seperti dalam bahasa Arab, tapi santri yang berasal dari bahasa Sanskerta. San berarti orang baik, dan tra berarti suka menolong.
hari santri nasionalSedangkan lembaga tempat belajar itu pun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Di Sumatra, pesantren disebut rangkang, meunasah, atau surau. Ini menunjukkan bahwa pendekatan dakwah para ulama yang permisif terhadap tradisi lokal.

Selain itu, nama-nama besar seperti Tuanku Imam Bonjol, yang merupakan seorang ulama besar, mujahid dan dicatat sebagai salah seorang Pahlawan Nasional adalah salah satu bukti nyata kontribusi Pesantren bersama Kyai dan santrinya kepada nusa bangsa dan negara ini.

hari santri nasionalMenurut Wahjoetomo, penulis buku Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan, perlawanan pesantren terhadap Belanda dilakukan dengan tiga cara; Pertama, uzlah (mengasingkan diri). Mereka menyingkir ke desa-desa dan tempat terpencil yang jauh dari jangkauan kolonial. Tidak aneh, jika pesantren mayoritas berada di daerah pinggiran, pelosok, dan bahkan pedalaman. Dengan hijrah ke pelosok-pelosok pedesaan, pesantren mengembangkan masyarakat Muslim yang solid, yang pada gilirannya berperan sebagai kubu pertahanan rakyat dalam melawan penjajah. Raffles sendiri dalam bukunya The History of Java mengakui bahaya para kiai terhadap kepentingan Belanda. Sebab, menurutnya, banyak sekali kiai yang aktif dalam berbagai pemberontakan.

Kedua, bersikap nonkooperatif dan melakukan perlawanan secara diam-diam. Selain mengaji dan menelaah kitab kuning, para kiai menumbuhkan semangat jihad santri-santrinya. Ketika Jepang memobilisasi tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah.

Ketiga, memberontak dan mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Misalnya, pemberontakan kaum Padri di Sumatra Barat (1821-1828) di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, Dimana beliau merupakan seorang ulama besar, pemberontakan Pangeran Diponegoro, ( Pangeran Dipenogoropun merupakan seorang Kyai ) di Jawa Tengah (1825-1830), dan pemberontakan di Aceh (1873-1903) yang dipimpin oleh Teuku Umar dan Teuku Cik Ditiro. Di Banjar Kalimantan ada Pangeran Antasari ( Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin ) dengan Jiwa keislamannya yang didapat sejak dari kecil dari bimbingan bimbingan ‘ulama’ didukung para ulama,santri dan rakyat berjuang Kalimantan. semboyannya sangat terkenal adalah haram manyarah waja sampai kaputing (haram menyerah, baja sampai keujung). Maksudnya dalam mengusir penjajah Belanda tidak akan pernah meminta ampun atau menyerah, perjuangan akan diteruskan sampai tenaga yang penghabisan.

” Masihkah kita meragukan peran dan kontribusi institusi pesantren untuk negara dan bangsa ini? Sebaliknya, yang harus dipertanyakan adalah apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah atau mungkin anda yang secara pribadi telah berkecukupan juga memiliki “power” untuk ikut berkiprah, berkontribusi dan berperan aktif terhadap pembangun dan pengembangkan pesantren-pesantren di Indonesia umumnya atau Pesantren di daerah terdekat anda khususnya.”

Bung Tomo dengan latar belakang kesantriannya terus mengobarkan semangat Zihad “Merdeka Atau Mati, Allahu Akbar”, semanga jihadnya tersebut yang membuat Arek Arek Soroboyo rela mengorbankan nyawa mereka berjuang demi negara. Bung Tomo terlebih dahulu sowan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama pada saat itu. Bung Tomo izin untuk membacakan pidatonya yang merupakan manifestasi dari resolusi jihad yang sebelumnya telah disepakati oleh para ulama NU, Dan Tahukah anda bahwa Jendral Besar Panglima Besar Tentara Nasional Kita Jendral Soedirman (alm) merupakan didikan dan gemblengan dari Kyai Haji Busyro di sebuah Pondok Pesantren di Binorong..Jend Soedirman juga bekerja sama dengan pondok pesantren yang dipimpin Kyai Siraj.

Pondok Pesantren ini banyak menggiring santrinya untuk berjihad dalam pertempuran Ambarawa. dan masih banyak sekali peran serta serta kiprah dari para ulama, dan santri tokoh tokoh Islam dalam perjuangan mereka demi bangsa dan negara ini.

Semangat jihad yang dimiliki muslim dengan teriakan “Allahu Akbar”, yang telah dikobarkan oleh para Kyai, Ulama dan santri itulah yang menempatkan kita pada era sekarang ini, yaitu kemerdekaan”. karena Semangat dan mentalitas jihad pasti dimiliki oleh mayoritas ummat Islam..

Menurut KH. Imam Zarkasyi, dalam buku Pekan Perkenalan Pondok Modern Gontor, pesantren didefinisikan sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kiai sebagai sentral figurnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan kiai yang diikuti santri sebagai kegiatannya.

Jadi, ada empat ciri utama pesantren. Pertama, pondok harus berbentuk asrama. Kedua, kiai sebagai sentral figur yang berfungsi sebagai guru, pendidik, dan pembimbing. Ketiga, masjid sebagai pusat kegiatan dan keempat, materi yang diajarkan tidak terbatas kepada kitab kuning saja.

Menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Penulis Peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization(INSIST), dengan catur-pusat inilah, pendidikan pesantren berfungsi sebagai “melting pot”, yaitu tempat untuk mengolah potensi-potensi dalam diri santri agar dapat berproses menjadi manusia seutuhnya (insan kamil).

Dengan demikian, karakter pendidikan pesantren bersifat menyeluruh. Artinya, seluruh potensi pikir dan zikir, rasa dan karsa, jiwa dan raga dikembangkan melalui berbagai media pendidikan yang terbentuk dalam suatu komunitas yang sengaja didesain secara integral untuk tujuan pendidikan.

“Di tengah gencarnya kampanye dan program pendidikan berkarakter dari pemerintah belakangan ini, pesantren justru jauh jauh hari sejak dari awal keberadaannya sudah menerapkan pola tersebut dengan pembelajaran Adab Dan Ahlaq”. Tujuan pendidikan pesantren pada hakekatnya seperti halnya tujuan kehidupan manusia di dunia ini adalah ibadah, yang spektrumnya seluas pengertian ibadah itu sendiri. Santri tidak hanya disiapkan untuk mengejar kehidupan dunia, tapi juga mempersiapkan kehidupan akhirat.

Di sisi lain, saat ini sedang banyak dikembangkan sekolah-sekolah yang diberi label Sekolah Berstandar Internasional (SBI), sebagian dengan pola boarding house school yang mengadopsi pola pendidikan pesantren . Tetapi jika kita melihatnya lebih dekat, sekolah-sekolah dengan label internasional tersebut hanyalah sekolah yang bertarif mahal (internasional), dan bukan sekolah yang berbahasa Inggris.
Ibaratnya, kita ingin anak kita menjadi artis, maka yang kita lakukan adalah mendandani anak kita dengan pakaian artis, bukan melatih vokal atau acting anak tersebut. Sekolah berstandar internasional yang sedang dirintis pemerintah juga dievaluasi dengan ujian nasional. Lalu, apa bedanya dengan sekolah berstandar nasional atau berstandar lokal? Akibatnya, pendidikan, khususnya sistem sekolah di kota-kota besar tidak lagi menjanjikan kesalehan moral dan sosial anak didik.

Jika Anda ingin melihat sekolah berstandar internasional, eksistensi Pondok Modern Gontor adalah salah satu bukti konkretnya. Tidak hanya santri wajib berbahasa Arab dan Inggris, Gontor juga mampu menarik siswa dari luar negeri, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Brunai Darussalam, Jepang, Amerika Serikat, Australia, dan berbagai negara lainnya. Inilah sekolah bertaraf internasional, walaupun tanpa embel embel sekolah internasional. Bahkan, jauh sebelum Indonesia merdeka dan jauh sebelum sistem pendidikannya mapan, pesantren dan alumni-alumninya telah banyak berperan—baik di nusantara maupun kancah dunia. Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-19, tercatat nama-nama sekaliber Nuruddin Ar-Raniri, Hamzah al-Fansuri, Abdul Rauf al-Sinkili, Syekh Yusuf al-Makassari, Abdussamad al-Falimbani, Khatib Minangkabawi, Nawawi al-Bantani, Muhammad Arsyad al-Banjari, dan lain-lain.

Dalam kondisi seperti inilah pesantren muncul menjadi sebagai alternatif penting. Dengan jiwa ukhuwwah Islamiyah, belum pernah di pesantren terjadi “tawuran”, atau terdengar adu jotos antar santri pondok A dengan pondok B dengan membawa senjata tajam, seperti yang sering kita lihat dan dengar di media. Dan karena jiwa kemandirian di pesantren, tidak sedikit dari santri drop out justru sukses sebagai pengusaha dan social entrepeneur.

Ketika terjadi upaya konvergensi ilmu pengetahuan agama dan umum, medan distribusi alumni pesantren menjadi semakin luas. Penyeberangan santri ke perguruan tinggi umum menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Para santri ini kemudian mengembangkan kajian-kajian agama secara informal dan intensif yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa yang tidak memilik background agama.

Saat ini, peran pesantren tidak lagi langsung dimainkan oleh alumninya, tapi oleh murid-murid alumninya.

Pergerakan mahasiswa, seperti HMI, PMII, IMM yang marak pada dekade 1970-an dan 1980-an, dan juga gerakan LDK, usrah-usrah dan intensifikasi aktivitas masjid kampus dan lain-lain, tidak dapat dipisahkan dari peran dan kontribusi alumni-alumni pesantren.

Jadi apalagi yang diragukan dengan kontribusi “ulama, Ajengan ( Kyai ) Dan Santri serta generasi generasi Islam” Pada Bangsa dan Negara ini..?? terus apakah Pemerintah sudah memberikan perhatian dan kontribusi yang cukup pada pondok pondok Pesantren ..?? terutama Pondok Pondok Pesantren di daerah daerah Terpencil..yang masih terkesan “kumuh”, gak bermutu, gak menjamin masa depan, dengan tatapan sebelah mata dan senyum sinis dsb, yang membuat orang tua anak enggan mengamanahkan anaknya ke sebuah Pondok Pesantren karena imagenya tersebut..?? atau sibuk dengan berinvestasi pada Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dan Boarding house boarding house school….dengan alasan skeptis”penjaminan mutu kompetensi kelulusan” sementara banyak Pondok Pondok Pesantren terutama di pelosok yang tertatih tatih dengan dana mandiri dan seadanya berusaha bertahan demi syiar Islam..dan menghasilkan generasi generasi berkarakter yang memang sudah sejak dari dahulu adab serta ahlak merupakan salah satu pendidikan dasar di Pesantren…??? Bagaimana dengan anda sendiri yang sudah berkecukupan..apakah sudah ada pula peran aktif anda demi kemajuan Di’enul Islam yang diawali dari Pendidikan di Pondok Pondok Pesantren…

Pesantren Modern Al Barokah sebagai salah satu institusi berusaha terus menciptakan kader-kader yang Islami yang memiliki jiwa nasional dan cinta tanah air serta mampu diandalkan disegala bidang.

Sumber:

  1. http://hanunghisbullahhamda.blogspot.co.id/2011/04/peran-pondok-pesantren-bagi-bangsa_23.html
  2. http://www.pontianakpost.co.id/peran-pondok-pesantren-dalam-penyebaran-islam-di-indonesia
  3. https://www.gontor.ac.id/
  4. https://pesantrenaliman.or.id/?gclid=EAIaIQobChMIn_q3luf71gIVw5e9Ch3FRww8EAAYASAAEgIo0vD_BwE
  5. http://pondokpesantrenhidayatussaalikin.blogspot.co.id/2016/04/peran-serta-dan-kontribusi-pesantren.html
  6. http://kopripmiijatim.or.id/2017/01/peran-pondok-pesantren-dalam-pengembangan-pendidikan/
  7. https://www.kompasiana.com/nafiseka/peran-keberadaan-pondok-pesantren-dalam-sistem-pendidikan-di-indonesia_555c91d3739773871a308730
FacebookTwitterShare
Updated: 27 November 2017 — 12:20 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Yayasan Wakaf Al Barokah Simalungun © 2015