Implementasi Pembelajaran, Praktikum Pengujian Bahan Pewarna Pada Makanan

Makanan adalah hal pokok berupa kebutuhan untuk hidup bagi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari makanan sebagai kebutuhan dasar. Untuk dapat memenuhi fungsinya dan aman dikonsumsi makanan tersebut harus mengandung gizi, karena makanan tidak aman dapat menimbulkan gangguan kesehatan bahkan keracunan (Moehji, 1992). Aneka produk makanan dan minuman berwarna warni tampil semakin menarik. Warna warni aneka produk makanan dan minuman mampu mengundang selera, terutama anak-anak. Kebutuhan akan bahan pewarna tampaknya sudah tidak bias dipisahkan dari berbagai jenis makanan dan minuman olahan, produsen pun berlomba-lomba untuk menarik perhatian para konsumen dengan menambahkan pewarna pada makanan dan minuman.

Bahan pewarna yang sering digunakan dalam makanan olahan terdiri dari pewarna sintetis (buatan) dan pewarna natural (alami). Namun, pada umumnya banyak dijumpai produk-produk makanan yang mengandung pewarna sisntetis dikarenakan praktis dan murah. Sebagai contoh banyak dijumpai pewarna buatan seperti tartrazin (kuning), sunset yellow (orange), dan allura red (merah) pada makanan dan minuman kemasan. Bahaya dari mengkonsumsi makanan yang mengandung pewarna sisntetis antara lain: rhinitis, alergi, mual, bahkan dapat menimbulkan tumor.

Sesuai materi pelajaran IPA di kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Pesantren Modern Al Barokah dan sekaligus pengaplikasian di lingkungan pesantren tentang zat aditif pada makanan, ustad komar selaku guru IPA mengajak para santri/santri melakukan praktikum uji pewarna sintetis pada produk makanan dan minuman yang jual di kantin/syirkah milik pesantren. Uji coba yang dilakukan santri kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Al Barokah bertujuan untuk mengetahui pewarna sintetis makanan dan minuman kemasan yang layak dikonsumsi. Uji coba dilakukan dengan cara memanaskan produk yang sebelumnya telah dimasukkan benang wol kedalam tabung reaksi bersamaan dengan bahan. Suhu yang dibutuhkan untuk memanaskan produk sekitar 70-800C, setelah mencapai suhu tersebut seluruh bahan akan didinginkan. Beberapa saat kemudian benang wol diambil dan dicuci dengan cairan sunlight. Benang wol yang hilang pewarnanya menandakan bahwa produknya aman dikonsumsi, sebaliknya benang wol yang pewarnanya tidak hilang walaupun telah dicuci disarankan untuk tidak dikonsumsi dan tidak diperjualbelikan di lingkungan pesantren. Produk-produk yang pewarnanya sulit hilang umumnya produk yang tidak mencantumkan jenis pewarnanya.

FacebookTwitterShare
Updated: 24 November 2017 — 4:51 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Yayasan Wakaf Al Barokah Simalungun © 2015